Home / Buletin Militer / Nunukan Perketat Penjagaan Perbatasan Dandim 0911 Nunukan Minta Masyarakat Responsif

Nunukan Perketat Penjagaan Perbatasan Dandim 0911 Nunukan Minta Masyarakat Responsif

Nunukan – Polisi dan TNI memperketat penjagaan dan pengawasan jalur perbatasan yang dimungkinkan menjadi akses kelompok radikal Maute, Abu Sayaf atau ISIS pasca konflik Marawi Piliphina.

Pasukan TNI AD terdiri dari Kodim 0911 Nunukan, Satgas Pamtas 611/AWL serta unsur polisi juga Brimob bersenjata lengkap “menutup” jalur rawan di Sebatik kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, menyikapi gejolak yang belum reda pasca perlawanan kelompok pemberontak pemerintah Piliphina, Komandan distrik Militer 0911 Nunukan Letkol Kav Valian Wicaksono Magdi meminta masyarakat perbatasan Responsif dan membantu aparat dalam hal pemberian informasi.

“Terkait perkembangan situasi ini kita minta responsif masyarakat, ada deteksi dini dan pencegahan dini, temu cepat dan lapor cepat informasi yang berkembang,”pintanya, Jumat (2/6/2017).

Selain patroli rutin dan pengawasan keluar masuk manusia dan barang di Sebatik, Valian juga memberdayakan unsur kodim lain, Babinsa ataupun danramil, mereka masuk ke desa binaannya masing masing sesuai fungsinya, melakukan pembinaan teritorial yang akan memperkuat ketahanan masyarakat di wilayah masing masing untuk mencegah kemungkinan masuknya kelompok kelompok tersebut,

“Semacam warning System di desa desa kita yang ada di perbatasan, kita sudah tekankan nanti di bawah komunikasi dan koordinasi Babinsa Babinsa kita, apabila masyarakat mendapatkan informasi apapun, mendeteksi adanya kemungkinan terjadinya kegiatan yang mengarah ke hal hal tersebut, segera diinformasikan ke kami,”lanjutnya.

Sejauh ini belum ada indikasi adanya penyebaran faham radikal di perbatasan Sebatik ataupun issue terkait gerakan intoleran lain, begitu juga informasi untuk penambahan pasukan khusus sebagai penjaga jalur perbatasan.

Pertempuran pecah sejak Selasa (23/5/2017), setelah militer Filipina menggerebek satu rumah yang diyakini sebagai tempat persembunyian komandan kelompok Abu Sayyaf dan pemimpin kelompok yang telah berbaiat dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), Isnilon Hapilon.

Saat itu Puluhan anggota milisi bersenjata menghadang gerak tentara pemerintah, memicu pertempuran sengit di beberapa titik kota. Milisi sempat mengibarkan bendera ISIS dan menurut pemberitaan Sejumlah warga Indonesia dilaporkan terlibat dalam aksi itu.

Beberapa sumber menyebut Isnilon Hapilon mencoba menyatukan kelompok militan Filipina yang telah menyatakan kesetiaan kepada ISIS. Ini termasuk kelompok Maute, yang berbasis di dekat Marawi.

Kelompok Maute telah terlibat dalam pertempuran mematikan berulang kali dengan militer Filipina, selama setahun terakhir. Mereka bahkan telah melakukan pemberontakan sejak tahun 1970an untuk sebuah wilayah otonom di Mindanao. Konflik panjang itu telah menewaskan lebih dari 130.000 orang.

Para pengamat menyebutkan, Abu Sayyaf, Maute, dan kelompok garis keras lainnya mengklaim bahwa mereka ingin membuat sebuah kekhalifahan Islam di selatan untuk ISIS.