Home / Buletin Militer / PENYAKIT DIFTERI: IMUNISASI SATU-SATUNYA CARA MENCEGAH PENULARAN‎

PENYAKIT DIFTERI: IMUNISASI SATU-SATUNYA CARA MENCEGAH PENULARAN‎

SAMARINDA. Pada saat ini sebagian wilayah tanah air di 95 kota dan 20 provinsi termasuk di wilayah Provinsi Kaltim sudah terindikasi adanya kasus wabah wabah difteri, dari data Kemenkes RI ada 6 kasus yang menyerang masyarakat kaltim. Secara Nasional angka kasus difteri mengalami tren kenaikan pada 2 tahun terakhir

Hal ini disampaikan Dandenkesyah 06.04.01 Letkol Ckm Tony Iskandar pada saat membacakan sambutannya tentang penyuluhan kesehatan mengenai penyakit difteri dan pencegahannya di aula Wira Yudha Makorem 091/ASN, Senin (8/1/2018).

Dokter PPK1 Tenggarong, dr Prihatini Ismonita Pasca Secioria, dalam penyuluhannya yang di hadiri ratusan prajurit dan Aparatur Sipil Negara (ASN) mengatakan “Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa”.

“Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, demam, menggigil, sakit tenggorokan, suara serak, sulit bernapas atau napas yang cepat, pembengkakan kelenjar limfe pada leher, lemas, lelah dan pilek awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah”,jelasnya.

Dokter menambahkan “Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Beberapa di antaranya masalah pernapasan, kerusakan jantung, kerusakan saraf dan difteri hipertoksik”.

Untuk pencegahan Difteri cara yang paling efektif adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

“Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal. Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup”, paparnya.

Kegiatan ini dilaksanakan bertujuan menghimbau prajurit, ASN dan keluarganya untuk  melaksanakan Vaksin, apabila tidak jelas status Imunisasinya, melaporkan dugaan difteri sehingga penanganan lebih dini dan bila terjangkit jangan panik.

Acara penyuluhan ini didukung oleh Synergi prima medika yang menyediakan 2000 vaksin untuk Balita.